JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah film pendek berbahasa Indonesia, Pilihan, menjadi film pendek terbaik dalam The 2nd Immigrant and Migrant Short Film Awards 2016.

Film berdurasi 13 menit 46 detik itu dibikin oleh NYALE Project, yang terdiri dari Ayub Angga Direja, Mufid Salim, dan Fahnurrieski.

The 2nd Immigrant and Migrant Short Film Awards 2016 menyeleksi berbagai film pendek yang bercerita tentang kehidupan buruh migran serta mengenalkan kekhasan Taiwan dari sudut pandang orang asing.

Acara puncaknya diselenggarakan di Musem Nasional Taiwan pada Minggu lalu (31/7/2016) waktu setempat.

“Ini film pertama gue yang menang kompetisi,” kata Ayub.

Para juri ajang penghargaan tersebut memiliki alasan untuk memutuskan Pilihan menjadi film pendek terbaik.

“Juri bilang, ini film sudah mewakili kehidupan migran di Taiwan, tentang pengorbanan yang dilakukan keluarga di rumah, dan juga pengambilan gambar bikin enggak bosen untuk dilihat,” kata ayub lagi.

“Karena kita sih tepatnya pengin bikin sesuatu yang nempel banget dan ceritanya mencakup pengalaman hidup semua kalangan. Nah, kebetulan ini semuanya real. Talent-talent yang ada di film itu ya beneran hubungan istri, suami, dan anaknya,” tambah Ayub.

Berkuliah dan Bikin Film
Sebagai warga Indonesia yang berkuliah di Taiwan, Ayub ingin lebih dari menuntut ilmu saja di negara berjulukan Negeri yang Sunyi itu.

Sebelum kembali ke Tanah Air, ia bertekad untuk membuat sebuah karya berkesan yang berhubungan dengan Taiwan.

Karena memang suka membuat film, cowok pengagum sineas Riri Riza ini menjadikan film pendek media untuk memenuhi hasratnya itu.

Ayub tidak sendirian. Bersama dua orang temannya sesama mahasiswa Taiwan, Mufid Salim dan Fahnurrieski, mereka membentuk NYALE Project.

Nyale adalah cacing laut sekitar Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, daerah asal Mufid.

Dengan membuat film, Ayub dan kawan-kawan ingin menginspirasi banyak orang di negerinya untuk meraih mimpi mereka.

Sebelumnya, NYALE Project pernah membuat company profile video untuk beberapa lembaga dan perusahaan.

Untuk Pilihan, mereka pun membagi tugas. Mufid menjadi “Humble artsy spokeperson”, Ayub “Amusing creative chief”, dan Fahnurrieski “Wise technical director”.

Dengan segala keterbatasan, mereka mulai membuat film yang bisa diterima semua kalangan.
Pilihan mereka pilih sebagai judul film itu.

“Film tersebut berkisah tentang seorang ibu yang patah hati karena terpaksa harus berpisah dengan anak dan suami tercinta untuk meraih mimpinya,” ungkap Mufid dalam siaran pers.

“Cerita film ini tentang perjuangan pendatang Indonesia di Taiwan dan pengorbanannya. Dalam cerita ini gue ngambil sudut pandang mahasiswa karena ya kebetulan yang main temen-temen gue juga,” terang Ayub.

Pembuatan film pendek tersebut kira-kira tiga bulan. Itu berlangsung ketika ia dan teman-temannya sedang menjalani kuliah pada pertengahan semester terakhir untuk meraih gelar master.

Setelah rampung, film itu diunggah ke YouTube. Tak ada pemutaran perdana atau promosi besar-besaran. Pengenalannya hanya melalui jaringan pertemanan dan media sosial. Namun, tanggapan terhadap film itu positif.

NYALE Project dan Ayub juga mendapat respon seperti apa yang mereka impikan.

“Dari respon orang yang nonton bilang kalau film ini mewakili apa yang mereka alami,” ucap pemuda yang pernah bersekolah di Banjarmasin itu.

“Enggak sedikit orang yang udah nonton terus japri ke gue atau tim bilang katanya cerita filmnya mirip banget sama kehidupannya. Bahkan ada bapak-bapak bilang, ‘Bikinin dong cerita tentang bapak-bapak, masa ibu-ibu doang, saya juga mau di-shooting’, ha ha ha,” ceritanya.

Kebetulan, tak lama setelah Pilihan dilepas ke publik, di Taiwan sedang ada The 2nd Immigrant and Migrant Short Film Awards 2016.

Pilihan pun diikutsertakan. Tema yang diangkat dalam Pilihan cocok dengan tema lomba film tersebut.

Menurut Direktur Global Worker’s Organization (GWO), Hsu Jui hsi, program itu bertujuan mendorong masyarakat Asia Tenggara untuk menyampaikan hak mereka.

GWO meluncurkan Immigrant and Migrant Short Film Awards pada 2015 dan menyelenggarakan pelatihan jurnalis gratis di Taichung, Yunlin, dan Kaohsiung, Taiwan. (Alvin Bahar)

 

 

 

Advertisements