oleh Mufid Salim

Hari ini, 87 tahun yang lalu menjadi saksi keinginan kuat para pemuda dari pelosok nusantara untuk mendirikan negara Indonesia. Sebuah cita-cita besar akan terbentuknya satu bangsa besar, satu tanah air, dan satu bahasa. Cita-cita tersebut kini sudah tercapai dengan peluh dan darah dari orang-orang yang memperjuangkannya. Namun, esensi cita-cita besar itu bukan hanya sekedar mencapainya. Lebih dari itu, terhampar tantangan untuk tetap mempertahankan cita-cita itu, utuh hingga akhir masa.

Jika kita mengeluh akan lemahnya rupiah kita, lalu harus bagaimana? Jika kita mengeluh, lemahnya daya saing produk kita, lalu harus bagaimana? Jika kita mengeluh, lemahnya hukum, lalu bagaimana? Jika kita mengeluh, lemahnya mental para petinggi negeri, lalu bagaimana?

Semua tidak akan berubah jika kita hanya mencerca dan mencerca.

Cita-cita itu dulunya diimpikan oleh para pemuda pada masanya, lalu diperjuangkan oleh pemuda pada jamannya, dan kini harus dipertahankan oleh para pemuda di eranya. Menengok masa lalu, negeri ini dulu dibangun oleh pemuda-pemuda yang merantau dari kampung halamannya. Bangsa juga ini dibangun oleh pemuda-pemuda yang keluar dari zona nyamannya. Mereka yang pergi jauh, lalu kembali pulang dan melakukan sesuatu bagi masyarakatnya.

Maka, di momen sumpah pemuda ini, kepada para pemuda di rantauan, mari berkaca. Kita yang telah melihat indahnya berkeliling dunia. Kita yang telah merasakan kemajuan peradaban dunia. Kita yang telah merasakan bangganya berada di pergaulan dunia.

Lalu…

Apa yang dapat kita berikan pada tanah air yang telah melahirkan kita? Balas budi apa yang kita bisa dermakan kepada bangsa yang membesarkan kita? Bakti apa yang kita bisa lakukan untuk ibu pertiwi yang menyatukan kita dari Sabang hingga Merauke? Sumbangsih apa yang bisa kita bagikan kepada rekan muda lainnya?

Cita-cita itu masih ada. Dan menjadi tugas kita, para pemuda di tanah rantau untuk menjawabnya.

Teruntuk seluruh sahabatku yang sedang berjuang di rantauan.

Taipei, 28 Oktober 2015

Advertisements