Detik-detik menuju pengumuman konvensi Partai Demokrat semakin dekat. Perasaan cemas dan penuh harap tentang hasil yang akan muncul. Group relawan terus berdering. Masing-masing memberikan update informasi terkini. Berkabar akan situasi terakhir yang terjadi dan kemungkinan-kemungkinan yang selanjutnya akan terjadi. Masing-masing memantau berita dari seluruh saluran yang bisa dijangkau. Semua bergerak dan fokus pada satu hal.

Saya tidak pernah membayangkan akan terlibat dalam suasana seperti ini. Lima tahun lalu, atau juga tahun-tahun sebelumnya, saya tak pernah peduli dengan siapa yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Karena memang membicarakan politik sangat tidak menarik. Terlebih dengan segala permainan-permainan yang ada di dalamnya. Saya merasa tidak memiliki kekuatan apa pun untuk merubah hal ini. Saya pun menghindari bersentuhan dengan wilayah ini. Tapi itu lima tahun lalu.

Kini, semua tampak berbeda. Ada sudut pandang lain yang saya lihat tentang hal ini. Ada kesadaran bahwa kita tidak bisa terlepas dari segala hal yang berbau politik. Semua hal yang berkaitan dengan diri kita sebagai warga negara republik ini ditentukan oleh keputusan-keputusan politik. Bagaimana mungkin kita nyaman dan bangga menjadi warga negara, jika hal-hal yang menentukan hajat hidup kita diputuskan oleh orang-orang yang hanya peduli dengan dirinya?

Lalu, ada semacam optimisme yang muncul, bahwa wajah politik negeri kita bisa dirubah. Ada semacam pemahaman, bahwa jika kita ingin hajat hidup kita sebagai warga negara menjadi lebih baik, maka kita perlu mendorong orang-orang yang memiliki kompetensi untuk masuk wilayah ini. Kita perlu mendorong orang-orang yang ingin tulus mengabdikan dirinya untuk masyarakat, agar diberi amanah mengurus negeri ini. Kita perlu mendorong sebanyak-banyaknya orang baik untuk masuk dalam wilayah politik.

Optimisme itu muncul dari sebuah momentum. Momentum yang dimunculkan oleh satu orang yang memang saya kagumi sejak lama. Orang yang sama sekali jauh dari wilayah politik. Orang yang tidak punya afiliasi apa pun dengan partai politik. Orang yang penuh prestasi dan punya jejak rekam positif. Orang itu bernama Anies Baswedan.

Pada awalnya, ketika Mas Anies memutuskan untuk masuk wilayah politik, saya teramat kecewa. Karena bukan itu akhir cerita hidup yang saya harapkan dari seorang tokoh kharismatik yang telah menggerakkan banyak anak muda untuk mengabdi pada negeri dengan mengajar.

Namun, setelah saya mempelajari apa motif dan tujuan dibalik keputusan ini, kekecewaan saya berbalik 180 derajat. Semenjak itu, saya putuskan untuk mendukung Mas Anies untuk membuat perubahan di wilayah yang berbeda. Wilayah yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali untuk dimasuki atau bahkan dirubah. Tapi jika kesempatan ini ada, maka optimisme itu nyata.

Apa pun yang menjadi hasil konvensi ini, kita harus siap menerima. Jika kita menang, itu berarti pintu perubahan di wilayah politik akan semakin terbuka lebar. Siap memasuki pintu perubahan selanjutnya yang lebih besar. Tapi jika kalah, kita tak perlu murung dan bersedih. Kita harus bangga, karena telah menjadi bagian dari anak-anak muda optimis yang telah berusaha berbuat sesuatu untuk negeri ini. Jika kalah, bukan berarti semua usaha kita sia-sia. Minimal kita sudah melakukan sesuatu. Mungkin upaya ini masih tampak kecil, tapi ini aksi untuk perubahan politik yang nyata. Ungkapan yang seharusnya muncul bukan “Mengapa ini terjadi pada kita?” tapi “Kontribusi apa yang bisa kita berikan selanjutnya?”

Selamat menanti keputusan konvensi. Kita sudah berusaha semaksimalnya. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik.

Optimislah selalu, dan tebarkan rasa optimisme itu!

Pejuang bukan?

Advertisements